Meninjau Potensi Komoditas Perikanan Indonesia di Kancah Global

18 Sep by Admin

Meninjau Potensi Komoditas Perikanan Indonesia di Kancah Global

Indonesia dikenal dunia sebagai negara kepulauan yang menyimpan potensi alam berlimpah. Begitu banyak komoditas ekspor negeri ini yang berasal dari alam, salah satu contohnya adalah perikanan. Beragam produk komoditas perikanan Indonesia sudah melalang buana ke pasar internasional, misalnya seperti ikan, rumput laut, lobster, udang, cumi-cumi dan produk laut lainnya.

Dilansir dari Jawa Pos, Indonesia kini mempunyai 158 negara tujuan ekspor perikanan dengan Tiongkok sebagai pembeli terbesar. China Custom Data sendiri melaporkan Indonesia sebagai negara pengekspor hasil perikanan terbesar ke-4 ke Tiongkok pada periode Januari hingga Mei 2020. Berkaitan dengan itu, produk ekspor perikanan Indonesia manakah yang sebenarnya berhasil mencuri perhatian dunia?

Direktur Utama Meraseti Group Rezzy Fahlepi mengatakan komoditas perikanan Indonesia saat ini didominasi oleh frozen product atau produk beku. Produk ini sangat diminati himpunan eksportir perikanan nasional. Meski demikian, setiap eksportir perikanan memperdagangkan produk beku ke luar dengan caranya masing-masing.

“Ada beberapa eksportir yang bisa menyewa pesawat, ada (juga) yang beli pesawat seperti Ibu Susi Pudjiastuti. Beliau punya 40 pesawat khusus untuk pengiriman produk perikanan segar,” ucap Rezzy.

Minat eksportir perikanan terhadap produk beku tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Produk olahan ini digemari karena mampu bertahan lama serta memiliki harga jual yang cukup kompetitif. Lingkup penjualan produk ini berada di daerah Asia Tenggara.

Selain produk beku, hasil perikanan lainnya yang tergolong dalam kategori produk olahan adalah produk segar, produk beku, produk kering, produk kaleng, produk fermentasi dan produk lainnya. Masing-masing produk diketahui mempunyai nilai ekspor yang berbeda dari waktu ke waktu. Rezzy menilai hal tersebut dipengaruhi oleh kebijakan yang diberlakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sebagai contoh, peraturan yang dibuat pada era kepemimpinan Rokhmin Dahuri dan dan Susi Pudjiastuti sebagai menteri KKP sudah berbeda. Saat menjabat sebagai menteri KKP 2001 – 2006, Rokhmin  mengizinkan kapal asing untuk menangkap ikan di Indonesia. Lain halnya dengan Susi yang melarang pelayaran kapal asing di Indonesia pada era kepemimpinannya di tahun 2014 – 2019. Perbedaan kebijakan ini jelas memunculkan devisa  perikanan yang tidak sama.

“Saat ini ekspor perikanan makin menurun. Mereka (eksportir lokal) lebih cenderung ke frozen, tapi ‘kan nilainya tidak terlalu tinggi. Kita bisa melihat pada lobster frozen dan lobster hidup yang harganya jauh berbeda,” papar Rezzy.

Jenis produk bukan satu-satunya faktor yang membuat harga komoditas eskpor perikanan berbeda, namun juga usia dan wujudnya. Rezzy mencontohkan hal ini pada nilai jual lobster di pasar global. Harga bibit lobster di pasaran saat ini berkisar dari Rp30.000 hingga Rp35.000. Ketika diekspor, harganya berubah antara kisaran Rp70.000 hingga Rp100.000.

Sementara itu, lobster hidup seperti jenis mutiara dihargai lebih mahal karena jangka hidupnya terbilang pendek. Hal tersebut membuat proses distribusinya tak bisa dilakukan sembarangan. Jika hendak dikirim ke Vietnam, lobster biasanya hanya mampu bertahan hingga 8 jam di pesawat. Rezzy menyebut nilai jual ekspor lobster mutiara dewasa di luar negeri berkisar dari Rp 4 – 5 juta.

Baca Juga:  Menakar Peluang Sektor Logistik di Tengah Masa Pandemi

“Lobster mutiara memang dicari waktu Imlek, harus ada di meja makan bagi yang merayakan. Dagingnya lebih segar. (Biaya) masaknya juga tidak terlalu mahal,” katanya.

Ekspor komoditas perikanan di Indonesia juga membutuhkan perhatian dari banyak pihak apabila ingin bersaing dengan negara lain. Rezzy mengatakan Tiongkok saat ini sudah memiliki alat dalam proses ekspor yang mampu menidurkan ikan hidup secara sementara. Begitu sampai di tempat tujuan, ikan yang tertidur ini akan kembali hidup seperti sedia kala saat bertemu air.

Simbiosis Mutualisme Indonesia dan Vietnam dalam Bibit Perikanan

Image: katadata.co.id

Tiongkok yang menjadi negara tujuan ekspor perikanan terbesar Indonesia diketahui juga menerima produk perikanan beku dari Vietnam. Hingga kini, eksportir Indonesia dan Vietnam masih terus bersaing memperebutkan pasar Tiongkok. Dari segi geografis, Vietnam lebih unggul karena lokasi negara ini lebih dekat ke Tiongkok dibandingkan Indonesia. Hal tersebut membuat proses distribusi Vietnam ke Tiongkok lebih mudah dengan durasi yang lebih singkat.

Meski bersaing dalam memperebutkan pasar produk beku di Tiongkok, Indonesia dan Vietnam tetap bekerja sama dengan baik dalam komoditas perikanan lain. Vietnam diketahui menjadi negara pengimpor bibit lobster terbesar Indonesia. Bibit lobster Mutiara asal Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi pembudidaya perikanan di Vietnam.

“Bibit lobster kita (Indonesia) memiliki pasar yang banyak, berbeda dengan lobster Vietnam,” ucap Rezzy.

Terkait budidaya lobster di Indonesia, Rezzy menilai hal tersebut masih sulit direalisasikan secara menyeluruh karena sejumlah faktor. Salah satu contohnya adalah perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan yang masih kurang. Menurut Rezzy, dana pinjaman yang diberikan pemerintah ke nelayan masih terbilang kecil, sementara budidaya lobster membutuhkan biaya besar. Sejumlah daerah budidaya lobster di Indonesia juga belum ditunjang layanan logistik memadai sehingga dikhawatirkan mengganggu alur perdagangan.

Untuk meningkatkan laju ekspor komoditas perikanan, Rezzy mengharapkan aturan ekspor-impor Indonesia tidak lagi saling tumpang tindih di masa mendatang. Ia memaparkan produk perikanan seperti lobster saat ini masih terhambat pajak dari Kementerian keuangan, sertifikasi KKP dan lain-lain. Proses pengurusan dokumen tersebut dinilai menghambat perdagangan komoditas perikanan.

“KKP baiknya menyederhanakan perizinan ekspor (perikanan), pos-pos perizinannya jangan terlalu banyak. Mulai bekerja sama dengan ITPC yang merupakan trade promosi Indonesia di luar negeri dan Kementerian Perdagangan. KKP juga perlu sering mengundang importir-importir dari negara lain supaya mengetahui apa yang diperlukan agar produk kita diterima,” papar Rezzy.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *